Kiat Dahsyat menjadi Da'i Hebat

Kiat Dahsyat menjadi Da'i Hebat

Senin, 03 November 2008

“Kamu Bodoh” adalah Virus pikiran yang menghancurkan prestasi anak

“Kamu Bodoh” adalah Virus pikiran yang menghancurkan prestasi anak
Oleh. Nasrul Syarif S.Sos.I

Seorang anak yang dapat jelek nilai matematikanya maka di kelas teman-temannya mengejek dengan mengatakan “ kamu bodoh, masa gitu aja ndak bisa” dan ternyata gurunya juga mengatakan hal yang sama “ dasar kamu otak udang” sesampainya di rumah, ditambah lagi orang tua marah dan kecewa lalu mengatakan, “kamu memang anak bodoh.” Setiap si anak salah melakukan sesuatu sering di marahi . Kamu selalu tidak pernah bisa mengerjakan hal ini dengan benar. Saya tidak habis pikir kok ada anak sebodoh kamu. Si Anak yang masih kecil dan berpikir linear maka dia akan menerima secara utuh apa yang dikatakan oleh orang tuanya, guru atau figure yang dia pandang mempunyai otoritas. Inilah yang akan menjadi virus pikiran yang mempengaruhi konsep diri. Apakah yang dimaksud dengan virus pikiran? Virus pikiran sebenarnya adalah cara berpikir yang tidak benar karena didasarkan pada asumsi yang salah. Cara berpikir ini bisa karena murni cara berpikir kita yang memang tidak benar dan bisa juga karena mendapat pengaruh dari orang lain atau lingkungan yang menurut behaviorisme perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Dalam kasus si Anak tersebut maka ia akan memberikan arti pada kejadian itu, yaitu, “Saya memang anak bodoh. Matematika saya dapat nilai jelek karena saya anak bodoh.” Hal ini akan mengakibatkan citra dirinya akan semakin buruk. Dia mulai melihat dirinya sebagai anak yang gagal. Begitu citra diri negatif ini tebentuk, anak tidak akan bisa berprestasi maksimal. Saat anak melihat dirinya sebagai anak bodoh, karena nilai matematikanya jelek, maka ini akan berpengaruh terhadap bidang studi lainnya. Prestasi akademiknya akan menurun. Dan ini semakin memperkuat keyakinannya bahwa dia anak yang bodoh. Anak ini bukan bodoh karena dia benar-benar bodoh , tapi karena program pikirannya membuat dirinya menjadi bodoh. Kebiasaan “bodoh” sebagai akibat seringnya mendengar kata-kata “kamu bodoh” ini akan terus terbawa hingga anak masuk SMP,SMA, Kuliah, dan terjun ke masyarakat.Sungguh bahaya dan mengerikan, bukan?
Oleh karena itu, bagi kita para orang tua dan para guru harus hati-hati terhadap virus pikiran di atas yang bisa menghancurkan prestasi anak dan mempengarui konsep diri anak. Proses pembelajaran yang salah bisa juga mengakibatkan konsep diri jelek. Lalu, apa yang dimaksud konsep diri? William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai “ those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others” ( 1974 : 40). Jadi konsep diri adalah persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri, yang terbentuk melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan, dan mendapat pengaruh dari orang-orang yang dianggap penting. Konsep diri terdiri atas tiga komponen utama yang saling mempengaruhi satu sama lain yaitu :
1. Diri Ideal ( Self-ideal): sosok individu yang kita ingin menjadi, di masa depan. Setiap orang pasti mempunyai diri ideal, baik disadari maupun tidak. Diri yang ideal menentukan sebagian besar arah hidup anda. Diri ideal menentukan arah perkembangan diri dan pertumbuhan karakter serta kepribadian.
2. Citra diri ( Self image) : cara Anda melihat diri Anda sendiri dan berpikir mengenai diri Anda pada waktu saat ini atau sering disebut “cermin diri”
3. Harga diri ( self-Esteem): kecenderungan dalam diri seseorang dalam memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap,mampu, dan memiliki keunggulan serta kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup yang mendasar. Orang dengan harga diri yang baik akan merasa dirinya sebagai makhluk berharga dan layak untuk berhasil dan hidup bahagia.
Harga diri berbanding lurus dengan citra diri. Jika citra diri baik maka harga diri akan tinggi. Sebaliknya, jika citra diri jelek, maka harga diri akan rendah. Diantara pengaruh harga diri yang tinggi terhadap hidup kita adalah; keyakinan diri besar, prestasi tinggi, penuh tanggungjawab, berani sukses,disiplin, perilaku produktif – ramah, pemaaf, sopan, mendukung, berani mengambil resiko, punya tujuan spesifikdan arah yang jelas serta memiliki tingkat energy yang tinggi.
Untuk memudahkan membayangkan konsep diri Adi. W. Gunawan menganalogikan konsep diri sebagai sebuah meja. Meja konsep diri akan semakin kokoh berdiri bila ditopang oleh kaki-kaki meja yang kuat. Bila kaki pendukungnya adalah pengalaman atau kejadian yang positif, maka anda akan mempunyai konsep diri yang positif dan kokoh. Sebaliknya, bila kaki pendukungnya adalah pengalaman atau kejadian negative, maka konsep diri anda akan negatif. Kuat tidaknya kaki pendukung meja konsep diri bergantung pada tiga hal, yaitu :
1. Siapa yang memasang : Kaki pendukung meja konsep diri akan sangat kokoh bila dipasang oleh orang yang dipandang mempunyai otoritas atau pengaruh. Orang yang kita kagumi dan hormati, bisa guru, pemuka agama, suami, isteri, kawan dekat, mentor atau penasehat spiritual.
2. Seberapa tinggi intensitas emosi saat kaki dipasang .
3. Repetisi ; semakin sering suatu kejadian diulang, akan semakin kuat pengaruhnya terhadap diri kita.
Gabriel Marcel, The Mystery of Being, menulis tentang peranan orang lain dalam memahami diri kita, “ The Fact is that we can understand ourselves by starting from the other, or from others and only by starting from them.” Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain lebih dahulu. Bagaimana Anda menilai diri saya, akan membentuk konsep diri saya. Harry Stack Sullivan (1953) menjelaskan bahwa jika kita diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan diri kita, kita akan cenderung bersikap menghormati dan menerima diri kita. Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan kita, menyalahkan kita dan menolak kita, kita akan cenderung tidak akan menyenangi diri kita. Tidak semua orang lain mempunyai pengaruh yang sama terhadap diri kita. Ada yang paling berpengaruh, yaitu orang-orang yang paling dekat dengan diri kita dalam istilah George Herbert Mead disebut significant others – orang lain yang sangat penting. Pandangan diri Anda tentang keseluruhan pandangan orang lain terhadap anda disebut generalized others. Memandang diri kita seperti orang-orang lain memandangnya, berarti mencoba menempatkan diri kita sebagai orang lain. Bila saya seorang ibu, bagaimanakah ibu memandang saya. Jika saya seorang guru, bagaimana guru memandang saya. Mengambil peran sebagai ibu, sebagai ayah, atau sebagai generalized others disebut role taking. Role taking amat penting artinya dalam pembentukan konsep diri. Dalam pergaulan bermasyarakat, kita pasti menjadi anggota berbagai kelompok dan setiap kelompok mempunyai norma-norama tertentu. Ada kelompok yang secara emosional mengikat kita, dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Inilah yang disebut kelompok rujukan ( Reference Group). Dengan melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan dirinya dengan ciri-ciri kelompoknya. Konsep diri merupakan factor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Bila seorang pelajar atau mahasiswa menganggap dirinya sebagai orang rajin, ia akan berusaha masuk sekolah atau kuliah secara teratur, membuat catatan yang baik, mempelajari dengan sungguh-sungguh, sehingga memperoleh nilai akademis yang baik. Bila orang merasa rendah diri, ia akan mengalami kesulitan untuk mengkomunikasikan gagasannya kepada orang-orang yang dihormatinya, tidak mampu berbicara di hadapan umum, atau ragu-ragu menuliskan pemikirannya dalam media massa. Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert ( 1976 : 42-43) Sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep diri anda; positif atau negative. Ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri negative adalah:
1. Ia peka pada kritik dan sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah atau naik pitam.
2. Resposif sekali terhadap pujian, segala macam embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, mereka pun bersikap hiperkritis terhadap orang lain.
3. Sikap Hyperkritis , mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
4. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan dan menganggap dirinya sebagai korban dari system social yang tidak beres.
5. Bersikap pesimistis terhadap kompetisi ditunjukkan dengan keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.
Adapun sebaliknya, orang yang memiliki konsep diri positif ciri-cirinya adalah sebagai berikut; Pertama, Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah. Kedua, Ia merasa setara dengan orang lain.Ketiga, Ia menerima pujian tanpa rasa malu.Keempat, Ia menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.Kelima, Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.Semoga kita bisa membangun konsep diri kita dengan baik dan positif demi kemajuan bangsa ini.

Tidak ada komentar: